Wednesday, September 15, 2010

MAU PUNYA TETANGGA MUSUH ATAU TEMAN?

 
Pada zaman Tiongkok Kuno, ada seorang petani mempunyai seorang tetangga yang berprofesi sebagai pemburu dan mempunyai anjing-anjing  yang galak dan kurang terlatih. Anjing-anjing itu sering melompati pagar dan mengejar-ngejar domba-domba petani.
Petani itu meminta tetangganya untuk menjaga anjing-anjingnya, tetapi ia tidak mau peduli.
Suatu hari aning-anjing itu melompati pagar dan  menyerang beberapa kambing sehingga terluka parah.
Petani itu merasa tak sabar, dan memutuskan untuk pergi ke kota untuk berkonsultasi pada seorang hakim.

Hakim itu  mendengarkan cerita petani itu dengan hati-hati dan berkata, "Saya bisa saja menghukum pemburu itu dan memerintahkan dia untuk merantai dan mengurung anjing-anjingnya. Tetapi Anda akan kehilangan seorang teman dan  mendapatkan seorang musuh.
Mana yang kau inginkan, teman atau musuh yang jadi tetanggamu?"
Petani itu menjawab bahwa ia lebih suka mempunyai seorang teman.

"Baik, saya akan menawari Anda sebuah solusi yang mana Anda harus manjaga domba-domba Anda supaya tetap aman dan ini akan membuat  tetangga Anda tetap sebagai teman."
Mendengar solusi pak hakim, petani itu setuju.

Ketika sampai di rumah, petani itu segera melaksanakan solusi pak hakim.
Dia mengambil tiga domba terbaiknya dan menghadiahkannya kepada tiga anak tetangganya itu, yang mana ia menerima dengan sukacita dan mulai bermain dengan domba-domba tersebut.
Untuk menjaga mainan baru anaknya, si pemburu itu mengkerangkeng anjing pemburunya.
Sejak saat itu anjing-anjing itu tidak pernah menggangu domba-domba pak tani.
Di samping rasa terima kasihnya kepada kedermawanan petani kepada anak-anaknya, pemburu itu sering membagi hasi buruan kepada petani. Sebagai balasannya petani mengirimkan daging domba dan keju buatannya.
Dalam waktu singkat tetangga itu menjadi teman yang baik.

Sebuah ungkapan Tiongkok Kuno mengatakan, "Cara Terbaik untuk  mengalahkan dan mempengaruhi orang adalah dengan kebajikan dan belas kasih."
Sama dengan ungkapan Amerika yang mengatakan, "Seseorang bisa menangkap lebih banyak lalat dengan madu dari pada dengan cuka."

Friday, September 3, 2010

Komitmen Setia

Dalam sebuah rumah mewah, hiduplah sepasang suami istri. Mereka sangat harmonis & berusaha meraih kehidupan mapan.

Namun setelah 10 tahun menikah mereka belum dikarunia seorang anakpun. Mereka saling mencintai, tetapi si suami berkeinginan menceraikan istrinya karena dianggap tidak mampu memberinya seorang pewaris. Setelah  berdebat lama & cukup sengit, si istri yg terluka akhirnya menyerah.

Melalui percakapan berkali-kali dengan berat hati orang tua mereka menyetujui dengan syarat "sebelum bercerai mereka harus mengadakan pesta seperti pernikahan mereka dulu".

Maka pesta megah diselenggarakan, pesta yg tidak membahagiakan siapapun. Suami tampak tertekan dan menegak anggur sampai mabuk berat, sementara si istri menghapus air matanya sesekali.

Di saat tak terduga si suami yg mabok dengan lantang berkata, "Istriku, saat kau  pergi nanti, semua barang berharga atau apa pun yg kau sukai, boleh kau bawa dan menjadi milikmu!" Setelah berkata demikian ia kembali meneguk anggur sampai tak sadarkan diri.

Keesokan harinya dengan kepala berat si suami terbangun dan sadar bahwa ia tidak tidur di kamarnya. Ia tidak mengenali kamar itu selain sosok yg sudah dikenalnya bertahun-tahun, di sampingnya, yaitu istrinya. "Ada di manakah kita? Apakah aku masih mabuk & bermimpi?". Dengan penuh cinta si istri menjawab, "Kita di rumah orang tuaku. Tadi malam, di depan para tamu kamu mengatakan bahwa aku boleh membawa apa saja yang kusayangi. Di dunia ini tidak ada barang yg lebih berharga dan kusayangi dengan sepenuh hati selain kamu. Karena itu kamu kubawa ke rumah orang tuaku"

Si suami termenung, lalu ia memeluk istrinya, "Maafkan aku sayang, karena aku bodoh dan tidak menyadari dalamnya cintamu padaku. Walau aku telah menyakitimu dan ingin menceraikanmu, tetapi kau mau membawaku  bersamamu, dalam keadaan apa pun".

Dalam pernikahan, suami harus mengasihi istri daripada anak, demikian juga dengan istri. Karena berkat yang paling utama dalam pernikahan adalah pasangan kita, bukan anak. Anak merupakan berkat tambahan di dalam kehidupan suami istri, yang berkomitmen setia sampai maut memisahkan.

Friday, May 7, 2010

Menanam Watak

Seorang Raja yang sudah tua memakai cara unik untuk mencari calon penggantinya. 
Suatu hari pemuda dari seluruh pelosok negeri dikumpulkan di balai pertemuan istana, masing-masing diberi sebutir benih tanaman.

"Anak-anakku sekalian, aku akan memilh penggantiku dari antara kalian. 
Benih yang sudah kalian terima akan menentukan masa depan kalian. 
Sekarang pulanglah, semaikan-lah benih tersebut. 
Tahun depan, kembalilah kesini dan tunjukkan hasilnya".

Joni bergegas pulang. Benih tersebut disemaikan dalam sebuah pot. 
Setiap hari ia rajin menyiram dan memberi pupuk. 
Hari demi hari berlalu. Bulan demi bulan lewat sudah. Namun, benih tersebut tak kunjung bersemi. 

Keadaan ini membuat Joni frustrasi. Sementara tenggang waktu setahun sudah habis. 
Kalau tidak dibujuk oleh Ibunya, ia nyaris tak mau kembali ke istana, "Nak, kau tidak perlu malu. 
Kamu sudah melakukan apa yang diperintahkan kepadamu. Laporkan kepada raja dan bilang secara jujur hasilnya".

Kekhawatiran Joni benar terjadi. 
Ketika sampai istana, ia kaget melihat begitu banyak tumbuhan hasil persemaian teman-temannya. 
Joni minder dan sedih. 
Raja berkeliling me-meriksa satu demi satu tanaman yang dibawa para pemuda. 

"Hei, kamu yang bersembunyi dibelakang, kemarilah". 
Sambil menenteng pot kosong, Joni maju ke depan diiringi cemooh pemuda pemuda lain.

Tak dinyana Sang Raja membungkuk memberi hormat kepada Joni seraya berkata, 
"Setahun yang lalu saya memberi kalian masing-masing sebutir benih kering yang sama sekali takkan bisa tumbuh. 
Kini berbagai jenis tanaman berkumpul disini. 
Diantara kalian hanya Joni satu-satunya yang dengan jujur berani membawa potnya yang kosong dan siap menerima cemooh dan celaan. 
Integritas semacam inilah yang menunjukkan kemuliaan hati seseorang. 
Dialah yang terpilih jadi Raja Baru!".

(Sumber: Menanam Watak oleh Yustinus Sumantri Hp.,SJ)

Wednesday, May 5, 2010

Selamat Menoleh Ke Atas

Seorang suami sedang membetulkan genteng yang bocor karena kayunya sudah lapuk, tetapi  tiba-tiba palunya jatuh kebawah. dibawahnya ada istrinya yang sedang asik bekerja menyapu halaman. Dia berteriak sekeras-kerasnya pada istrinya untuk diambilkan palu, tetapi sang istri tidak mendengar karena suasana dibawah sangat ramai apalagi dekat dengan jalan raya. Suami beinisiatif melempar dia dengan uang sepuluh ribu supaya tidak menyakitinya, dan berharap istrinya bisa menoleh keatas. tapi ternyata.. ketika uang dilempar.. sang istri heran kok ada uang jatuh dari langit, dia sangat senang dan memungut uang itu lalu kembali bekerja..tanpa menoleh keatas. Suami mencoba melempar untuk yang kedua kali, kali ini uang yang nominalnya lebih besar (100 ribu). tapi masalahnya sama, sang istri jadi heran ada uang jatuh dari langit, tetapi tetap saja dia tidak mengerti apa yang diinginkan suaminya untuk menoleh keatas. Lalu dengan geregetan suami mengambil pecahan genteng, lalu dilempar tepat mengenai punggung istrinya. tentu saja istri berteriak kesakitan dan menoleh ke atas... sekalipun sakit kemudian dengan mudah mengerti apa yang dimaksud suaminya......  Sahabat, Siapa sih yang tidak suka dilempar berkat atau segala sesuatu yang enak dan menyenangkan? Misalnya naik pangkat, rejeki yang melimpah, kemudahan dll. Tapi kadang justru kita sering lupa siapa sang pelempar berkat itu..bahkan kita sering tidak mengerti maksudNYA.... Justru seringkali lebih mujarab bila Tuhan melempar kita dengan masalah, sakit, problem dan sebagainya...memang sangat sakit dan menderita... tetapi justru itu adalah cara jitu yang membuat kita memandang ke atas.. Kita membutuhkan pertolongan pada saat terjepit dan itulah yang seringkali dipakai oleh Tuhan agar manusia mengerti maksudNYA.. Jadi bersyukurlah karena masalah yang terjadi karena itu membuat kita harus menoleh ke atas dan semakin dekat dengan SANG PENCIPTA kita. Selamat menoleh ke atas.

Wednesday, April 14, 2010

From DISNEY we Learned

‎Why was Snow White given an apple with poison ?
To show that not all people are as kind as what they pretend to be.

Why did Cinderella have to run away when the clock stroke midnight *...* ?
To remind us that everything has limitations even dreams.

Why did Ariel decide to exchange her fins with feet ?
To show that anyone is willing to give up anything just to be happy.

Why did Beauty get in love with the Beast?
To show us that Beauty is NOT everything , we have to look at the Personality 1st

Adakalanya Tuhan sengaja menunda pertolonganNya. Mengapa?

Renungkan:

Tuangkan air panas  kedalam 3 gelas

Di gelas pertama  masukkan Telur.
Digelas kedua,  taruh Wortel.
Dan digelas ketiga,  bubuhkan Kopi.

Setelah menunggu beberapa saat , angkat isi ketiga gelas tadi.Maka......

Wortel yang keras menjadi
Lembut,
Telur yang mudah pecah menjadi Keras,
Kopi memancarkan aroma harum.

Kita diingatkan melalui hal ini " masalah itu bagaikan air yg mendidih. Namun, bagaimana sikap kitalah yang akan menentukan dampaknya."
Kita bisa menjadi :
Lembek seperti Wortel.
Mengeras seperti Telur.
Atau harum seperti Kopi.

Dalam tiap masalah, sebenarnya tersimpan mutiara imam yang berharga. Sangat mudah untuk bersyukur saat keadaan baik-baik saja. Tapi apakah kita dapat tetap percaya saat pertolongan Tuhan seolah tidak kunjung datang?

Kita dapat  belajar ada 3 reaksi orang saat masalah datang.......
*Ada yang jadi lembek, suka mengeluh, dan mengasihi diri. *Ada yang mengeras marah dan berontak pada Tuhan.
* Ada juga justru makin harum, makin taat dan berserah percaya pada Nya.

Adakalanya Tuhan sengaja menunda pertolonganNya. Apa tujuannya?.......
Agar kita belajar percaya, tidak pernah ada masalah yg tidak bisa Dia selesaikan.... 
" Semua indah pada waktuNya

Tuesday, December 15, 2009

RENUNGKAN 3 X 8 = 23 ????

Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik.
Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumunin banyak orang.

Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.
Pembeli berteriak: "3x8 = 23, kenapa kamu bilang 24 ?"
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: "Sobat, 3x8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi".
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata:
"Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan".

Yan Hui: "Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?"
Pembeli kain: "Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"
Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu". Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confusius.

Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: "3x8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Kasihkan jabatanmu kepada dia." Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.
Ketika mendengar Confusius bilang dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain.

Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya.

Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya.Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai,
dan memberi Yan Hui 2 (Dua) nasehat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."

Yan Hui bilang baiklah lalu berangkat pulang. Di dalam perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu.

Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.
Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya.
Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai didepan ranjang, dia meraba dan mendapati
ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya.

Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh.
Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: "Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"
Confusius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir,makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon.
Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".

Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."
Confusius bilang: "Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku.
Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3x8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu.
Tapi jikalau guru bilang 3x8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa.
Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?"
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun.
Murid benar2 malu."

Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.

Cerita ini mengingatkan kita:

Jikapun aku bertaruh dan memenangkan seluruh dunia, tapi aku kehilangan kamu, apalah artinya.
Dengan kata lain, kamu bertaruh memenangkan apa yang kamu anggap adalah kebenaran, tapi malah kehilangan sesuatu yang lebih penting.

Banyak hal ada kadar kepentingannya. Janganlah gara2 bertaruh mati2an untuk prinsip kebenaran itu, tapi akhirnya malah menyesal, sudahlah terlambat.

Banyak hal sebenarnya tidak perlu dipertaruhkan. Mundur selangkah, malah yang didapat adalah kebaikan bagi semua orang.
Bersikeras melawan pelanggan. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat kita kasih sample barang lagi, kita akan mengerti).

Bersikeras melawan boss. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Saat penilaian bonus akhir tahun, kita akan mengerti).

Bersikeras melawan istri. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Istri tidak mau menghirau kamu, semua harus "do it yourself").

Bersikeras melawan teman. Kita menang, tapi sebenarnya kalah juga. (Bisa-bisa kita kehilangan seorang teman).   

Followers